Kaliandra dan telaah tradisi arsitektur Nusantara

astudioarchitect.com 16 Desember 2007




 'Musik campursari adalah suatu cara agar musik tradisional Jawa bisa survive di jaman modern', sayup-sayup saya mendengar seseorang berbicara hal itu. Saya setuju dengan pernyataan tersebut. Arsitektur tradisional bisa juga hadir dalam konteks baru di jaman modern ini, agar tetap memiliki kelangsungan hidup. Kaliandra adalah sebuah kawasan budaya dengan visi; "Terciptanya manusia yang mandiri, berbudaya dan berkelanjutan". Konsep Kaliandra mirip seperti konsep bangsawan tuan tanah di Eropa jaman dahulu, dengan para pekerja yang bekerja di tanah tersebut. Website Kaliandra dapat diakses melalui www.kaliandrasejati.org




Ini adalah salah satu contoh dimana pemberdayaan lokal hadir dalam wawasan lingkungan. Bersama dengan diwujudkannya arsitektur lokal dan tradisional, pemberdayaan masyarakat lokal melalui budaya melahirkan manfaat, bagi masyarakat sekitar sebagai mata pencaharian, masyarakat sebagai wahana mengenal budaya dan peradaban, serta bagi pemilik yayasan Kaliandra sebagai bagian dari profit yayasan, untuk menghidupi segala kegiatan didalamnya.


Kaliandra hanya salah satu contoh dari berbagai contoh lain disekitar kita, yang bila ditelaah akan memberikan pengertian yang lebih baik tentang peradaban Nusantara pada umumnya. Demikian pula dengan Arsitektur Jawa Timur, sebagai suatu peradaban kedaerahan yang spesifik, hanya salah satu contoh saja dari berbagai peradaban di Nusantara yang masing-masing, adalah sebuah untaian mutiara dari keberagaman sekaligus kemiripan peradaban disekitar Asia Pasifik.


Dalam wujud yang lebih kontemporer, Kaliandra mengusung peradaban arsitektur Jawa Timur dalam wacana bangunan-bangunan yang dapat diapresiasi sebagai bagian dari menyambung kembali peradaban masa lalu.


Hadir dengan tatanan baru, konsep landscape dan bangunan di Kaliandra terinspirasi oleh kejayaan arsitektur masa lalu Jawa Timur.

Tradisi terputus karena tidak adanya regenerasi, atau proses mengenalkan pada generasi selanjutnya, sehingga tradisi seharusnya merupakan sesuatu yang di'getok-tular'kan dari generasi ke generasi. Untungnya tradisi Jawa Timur masih kuat melekat pada sebagian masyarakatnya, terutama yang hidup didesa-desa, apalagi yang hidup didaerah terpencil. Bahkan kebudayaan yang berkembang bisa diurut kembali ke masa lalu. Lain halnya dengan daerah-daerah perkotaan di Jawa Timur, dimana peradaban modern mengambil bagian dari kehidupan masyarakat dengan cukup intens, tingkat kecintaan masyarakat yang kurang tersentuh oleh hasil peradaban modern terhadap tradisi lokal sangat besar dan mendarah-daging.

Arsitektur tradisional dapat melekat kuat dan dipergunakan sehari-hari oleh masyarakat karena memiliki konteks yang sesuai untuk diri mereka. Justru karena arsitektur ini dekat dengan keseharian, filsafat hidup dan kebiasaan sehari-hari mereka, sehingga arsitektur tradisional digunakan. Bila tidak sesuai dengan keseharian, arsitektur vernakular tradisional akan ditinggalkan. Kecuali bagi arsitektur yang monumental dan menjadi prasasti dari filsafat hidup atau keagungan nilai-nilai yang dilestarikan, seperti arsitektur di keraton. Biasanya arsitektur modern dan pendekatan perancangan modern digunakan bagi sebagian masyarakat yang telah berada dalam lingkungan peradaban modern.

Konsep Kaliandra sebagai pemberdaya masyarakat lokal merupakan contoh baik bagi kontribusi penyandang dana bagi lingkungan, tidak hanya dari unsur budaya, namun juga pemberdayaan intelektualitas dan ekonomi masyarakat sekitar. Di Kaliandra, masyarakat sekitar dilibatkan dalam berbagai acara sebagai pekerja operasional, secara berkala Kaliandra juga menyelenggarakan seminar dan sarasehan gratis maupun berbayar bagi masyarakat lokal, komunitas, atau profesi tertentu. Zuraida (dalam [Ref. 3]) berpendapat bahwa desa yang berkembang tidak hanya bermanfaat bagi ekonomi desa itu saja, namun juga bagi tingkat intelektualitas masyarakatnya, karena dengan ekonomi yang lebih baik, sangat mungkin pendidikan bisa lebih maju. Dalam kondisi, wilayah lain dengan potensi lokal berbeda hal seperti ini juga bisa dilakukan. Misalnya; membuat pemberdayaan potensi desa pengrajin, desa tepi pantai, desa agrobisnis dan agrowisata, dengan sistem yang melibatkan masyarakat, yang bisa meningkatkan taraf hidup masyarakat dalam ekonomi, sosial dan budaya.

Arsitektur Tradisional Jawa (dan Nusantara) sebagai bagian dari peradaban dunia

Arsitektur modern dibuat dengan cara pandang berbeda daripada arsitektur tradisional, karena akar desainnya didapat dari kebutuhan dan gaya hidup masa kini yang boleh jadi berbeda dari yang digunakan masyarakat dengan tradisi yang kental. Sebagai contoh; ada rumah tradisional yang minim bahkan tanpa jendela, yang dipandang dari sisi arsitektur modern akan dipandang sebagai rumah tidak sehat. Dalam hal ini, ternyata rumah tersebut memang dibuat tanpa jendela, karena ruang dalam hanya digunakan untuk malam hari (tidur), dan digunakan untuk menyimpan segala harta benda seperti perhiasan, kendaraan, bahkan ternak. Arsitektur tradisional dengan wacana semacam ini tidak bisa dipandang sebagai menyalahi peraturan pemerintah tentang rumah sehat, misalnya, karena konteks tradisi berbeda.

Diagram sejarah peradaban Jawa dibawah ini dibahas untuk memperjelas beberapa hal dibawahnya;


Sejarah Jawa Timur menunjukkan dinamisme dalam kehidupan bernegara yang ada dalam kerajaan-kerajaan masa lalu, yang menyebarkan tradisi lokal Jawa Timur ke berbagai daerah, serta mendapatkan pengaruh dari banyak daerah lain di Nusantara, Asia Pasifik, dan dunia. Arsitektur candi di Jawa Tengah patut disimak, karena arsitektur Jawa Tengah berkembang lebih dulu daripada Jawa Timur. Peradaban di Jawa berkembang dengan pengaruh India dengan agama Hindu - Budha dimana dari perkembangan ini terjadi suatu peradaban yang sangat terorganisir; kerajaan-kerajaan besar.

Candi Dieng di Jawa Tengah, Indonesia.
Sumber gambar: http://www.ecesty.cz/cestopisy/1998cks/obrazky/indonesie/ri_dieng_chramy.jpg

Mengambil contoh arsitektur candi Dieng (ini berada di Jawa Tengah), dengan bentuk candi punden berundak (candi dengan hierarki depan - belakang, bagian belakang lebih tinggi), candi ini memiliki relief yang bila diperhatikan, akan menunjukkan sesuatu fakta sejarah. Reliefnya menunjukkan frame konstruksi kayu, yang menggambarkan bahwa konstruksi kayu adalah jenis konstruksi yang sangat penting dan banyak digunakan waktu candi ini dibuat (sebuah hal yang luar biasa; bangunan berkonstruksi batu yang menggambarkan konstruksi kayu), berbeda dengan candi di India yang hingga abad kesepuluh tidak menunjukkan arsitektur kayu. Hal ini menunjukkan arsitektur candi di Indonesia tidak sepenuhnya diimpor dari India. Sistem konstruksi yang digunakan adalah berasal dari India, namun arsitektur lokalnya berbeda, memiliki gaya tersendiri. Sama seperti saat ini dimana kita mengimpor sistem konstruksi modern yang banyak berasal dari luar negeri terutama dari Belanda, arsitektur masa candi mengambil teknologi konstruksi dari India dan mengembangkan gaya arsitekturnya sendiri. Hal ini mengukuhkan bahwa Jawa tidak terlalu 'silau' dengan kebudayaan yang datang dari India, melainkan mengembangkan diri sesuai karakter lokal yang ada.

Gambaran arsitektur kayu dalam arsitektur konstruksi batu di candi Perwara, Plaosan, Jawa Tengah.
Sumber: [Ref. 4]


Bangunan-bangunan berkonstruksi kayu yang ada di relief candi Borobudur, Indonesia. Menunjukkan konstruksi rumah panggung yang di Jawa tidak populer, namun di pulau-pulau lain populer seperti di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Papua, dan lain-lain, menunjukkan dikenalnya peradaban dari wilayah Nusantara lainnya di Jawa pada waktu Borobudur didirikan.
Sumber gambar; [Ref. 4]

Keunikan bangunan candi juga dapat diambil dari tipologi bangunan candi yang unik dan memberi gambaran hubungan dengan bangsa lain di masa lalu. Candi Sukuh adalah candi yang cukup unik juga di Jawa Tengah, bahkan sangat unik karena jenis arsitektur yang digunakan tidak lazim terdapat di Jawa ataupun India. Candi ini berbentuk piramid terpancung.



Candi Sukuh di Solo, Jawa Tengah, Indonesia.
Sumber gambar: http://www.tournonsensemble.com/indonesie/indonesie_photos.htm






Piramid Kebudayaan Maya, Amerika Selatan
sumber gambar; http://www.whitebison.org/magazine/2003/volume4/images/vol4no21/photo1.jpg

Dari sisi bentuk, arsitektur candi ini tidak dapat ditemui di mana saja di Nusantara dan Asia, namun hanya ditemukan di bangunan-bangunan tua di Amerika Selatan. Hal ini merupakan suatu hal yang dapat menunjukkan kemungkinan kuat adanya hubungan antara Jawa dengan Amerika selatan jauh di masa silam. Selain itu bentuk patung-patungnya juga hampir mirip (bentuk estetika patungnya mirip). Bentuk patung dan relief dengan proporsi patung 'tak lazim' juga ditemukan di berbagai kebudayaan, antara lain; Jawa, Timur Leste, Batak, Kalimantan, Minahasa, dan sebagainya dimana hal ini menunjukkan kemungkinan pernah terjadinya hubungan budaya antara berbagai peradaban tersebut. Banyak peninggalan berasal dari masa megalithikum (peradaban batu besar). Patung-patung ini tentunya memiliki estetika yang tidak sama dengan patung-patung di Eropa.


Relief Candi Sukuh, Solo, Indonesia
sumber gambar; http://www.geocities.com/javakeris/kerisologi.htm






Patung-patung di Candi Sukuh, Jawa Tengah; estetika patung yang 'tak lazim' yang mirip dengan patung-patung dari kebudayaan Maya Inca, di Amerika Selatan.
Sumber gambar; blontankpoer.blogsome.com







Dua estetika berbeda; timur dan barat. Patung Durga dari kerajaan Singhasari (Malang, Indonesia) yang sekarang ada di Belanda, dan patung hiasan di gedung opera di Paris. Yang satu berlandaskan kepekaan dimensi kosmologis metafisik, yang lain berlandaskan realisme estetika erotisme fisik.
Sumber; Wasthu Citra

Kata 'Rumah' adalah kata yang menarik dipandang dari sisi penggunaan kata ini oleh berbagai peradaban disekitar Asia Pasifik. Dalam bahasa Jawa, Rumah adalah o-mah. Di Nias disebut o-mo, di Batak disebut huma, di NTT disebut u-me. Di kepulauan Pasifik sebutan untuk rumah banyak memiliki persamaan, seperti amo, oma. Hal ini menunjukkan bahwa peradaban Jawa adalah sebuah bagian besar dari peradaban Asia Pasifik, dimana Nusantara menjadi area sirkulasi yang sangat padat di masa lalu sebagai penghubung antara Mesir dan Asia Pasifik.

Untuk melihat kemiripan estetika hasil budaya di Nusantara dan salah satu kepulauan di Pasifik, kita bisa melihat contoh dari Papua dan kepulauan Easter.

Salah satu patung modern di Papua, terlihat estetika patung 'tak lazim' yang masih dipelihara hingga saat ini. Bandingkan kemiripan estetika ini dengan patung di kepulauan Easter dibawah ini.
Sumber foto: http://www.papuaweb.org/gb/foto/muller/ecology/05/index.html



Patung-patung dari jaman Megalith di Easter Islands, Pasifik. Jenis estetika 'dunia Timur'.
sumber gambar: http://www.easterislandquest.com/img-welcome-easter-island.jpg

Kata lain yang dapat menunjukkan yang disebut 'kata yang menggambarkan persatuan peradaban Nusantara adalah kata Ratu dalam bahasa Jawa, Datu dalam bahasa Melayu (atau Datuk), Ratu dalam bahasa Fiji, dan semacam itu yang digunakan dalam peradaban sekitar Asia Pasifik, serta masih digunakan di Jawa [Ref. 8]. Peradaban ini dalam sejarah linguistik disebut sebagai Austronesian, yang merupakan wilayah penyebaran bahasa Astronesian yang tersebar, dari Asia ke Pasifik [Ref. 9]. Bahkan pada 1500 AD, Austronesian telah mengambil bagian dari hampir separuh dunia dalam perkembangan tutur bahasa, dari Madagaskar hingga kepulauan Easter. Tak heran bila dalam perkembangan itu juga berbagai budaya saling bersentuhan dan ditularkan. Indonesia berada dalam arus lalu lintas yang menghubungkan Asia dan Pasifik, tentunya pengaruh yang datang ke Indonesia tidak hanya dari Asia Tenggara saja, namun juga dari Kepulauan Pasifik, Micronesia, India dan wilayah-wilayah lain dalam area ini.

Tidak mengherankan pula bila Indonesia memiliki kebudayaan yang sangat kaya, karena merupakan bagian dari peradaban Asia Pasifik. Disamping itu, faktor sedikit terisolasinya pulau-pulau mencetuskan kebudayaan masing-masing daerah yang sangat unik dan beragam, serta memiliki karakter kuat untuk masing-masing daerahnya. Perkembangan Austronesia menurut tumpang-tindihnya kebiasaan (overlapping behaviour) bertutur bahasa memang tidak bisa dengan mudah dikaitkan dengan penyebaran budaya, namun ada kaitan yang sangat erat antara penyebaran dan percampuran bahasa dengan kemungkinan penyebaran budaya yang dapat terjadi seiring hal tersebut. Perkembangan ini diindikasi telah berlangsung dalam 6000 tahun, sejak jaman sebelum sejarah [Ref. 8].


Akar budaya Nusantara, berakar dan berhubungan dengan India, Asia, Nusantara, Australia, Mikronesia, dan lebih jauh; Amerika Selatan.

Dalam contoh lingkup yang dibahas dalam artikel ini, arsitektur rumah di Jawa Timur mengalami banyak perubahan. Pada dasarnya arsitektur rumah dan bangunan lainnya adalah arsitektur kayu, dimana menurut relief candi-candi di Jawa, adalah bangunan yang mendominasi di tanah Jawa, dan Nusantara pada umumnya. Arsitektur kayu adalah arsitektur dengan bahan dasar dasar dan konstruksi kayu, sedangkan arsitektur batu seperti arsitektur Eropa dan candi-candi di Indonesia dan India dibuat dari konstruksi massa (mass construction) berbahan dasar batu. Arsitektur rumah memiliki banyak jenis rumah berdasarkan bentuk atapnya. Ada rumah Tajug, Rumah Kapung (bukan Kampung), Rumah Limansap (bukan Limasan), Joglo, dan sebagainya. Menurut Prijotomo [Ref. 1], Joglo adalah tipe bangunan yang termuda, karena joglo tidak pernah digambarkan dalam candi-candi di Jawa. Hal ini menunjukkan arsitektur Joglo yang sekarang masih ada di Jawa Timur dan Jawa pada umumnya merujuk pada 'tren' arsitektur Jawa termuda, yaitu joglo. Joglo yang banyak di Jawa ternyata tidak hanya berada di Jawa melainkan juga di daerah-daerah lain di Nusantara, seperti di Sumba, Lombok, dan lain-lain. Bentuk joglo di Sumba dan Lombok sudah ada sebelum abad ke-15 sehingga hal ini menunjukkan hubungan antara Jawa dengan Indonesia Timur, dimana arsitektur Joglo boleh jadi 'terinspirasi' oleh arsitektur dari wilayah Indonesia Timur tersebut.





Joglo khas Sumba
sumber gambar; https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgYUZVCPUgTfl6AQsj0qaZWZtvbNOy20Tn690ZGkdH4sVCnFtZrUaiZ53mfiaZrifH_4HokenRlualUh5eCCIujlsHYVpPehvvE7f4Eb1YpfYawx0RfHHi9hMseLXZsbOE6uGCPDSu2Mlii/s1600-h/rmh+sumba.jpg

Melestarikan tradisi arsitektur dalam konteks baru di jaman modern
Dalam hal ini berarti turut serta melestarikan rentetan peradaban arsitektur di sepanjang Asia Pasifik, dalam lingkup kecilnya; budaya lokal Jawa - Nusantara yang menjadi bagian dari peradaban yang lebih besar. Kelangsungan ini menunjukkan tidak terputusnya tradisi, dapat dipelajari di masa depan sebagai 'menghadirkan kembali kejayaan masa lalu' seperti halnya kelahiran kembali peradaban Eropa di masa Renaissance. Bentuk Joglo dipakai dalam sebagian bangunan di Kaliandra, dimana bentuk ini merupakan ciri khas bangunan Jawa Timuran yang dibuat dengan konstruksi dan konteks modern.




Pendopo di bagian depan kawasan





Pendopo dan landscaping di area depan Kaliandra





Pendopo bagian 'atas' kawasan





Arsitektur kayu di Kaliandra, berhubungan atau terinspirasi dari arsitektur khas Jawa lainnya, seperti seperti bangunan di keraton Jogja.






Digunakannya batu-bata sebagai pelapis dinding dan lantai mengingatkan kita pada arsitektur candi peninggalan Majapahit di Trowulan, Jawa Timur

Kaliandra memiliki keunikan dalam bangunan-bangunannya, dimana selain tradisi arsitektur lokal Jawa dihadirkan dalam bentuk bangunan, terdapat pula pengaruh arsitektur Eropa yang hadir dalam ornamentasi dan detail bangunannya. Bahkan terdapat pula arsitektur bangunan yang 'sangat Eropa'.










Bangunan-bangunan yang 'sangat Eropa' di Kaliandra.

Akulturasi




Akulturasi dalam bangunan ini saja; sistem konstruksi modern, tata nilai arsitektur Jawa, patung bentuk 'tak lazim' dari kebudayaan primitif banyak peradaban di seluruh dunia, patung tembikar gaya eropa diatas kolom-kolom bata candi Trowulan.






Patung tembikar di Kaliandra, yang sudah agak meninggalkan ciri khas patung estetika 'tak lazim' dari dunia timur, menuju ideal barat.

Sketsa







(Probo Hindarto)

***
REFERENSI
Materi Seminar
[1] Materi seminar 'Arsitektur Jawa Timuran' oleh Joseph Prijotomo, 15 Desember 2007; "'Sejarah' dan Perkembangan Arsitektur di Jawa Timur - Tantangan untuk Re-orientasi Pemahaman"

Buku
[2] Ismunandar. Joglo, 2007. Arsitektur Rumah Tradisional Jawa. Penerbit Effhar, Semarang.
[3] Silas, Johan, dkk. 2000. Rumah Produktif, dalam dimensi Tradisional dan Pemberdayaan. UPT Penerbitan ITS, Surabaya.
[4] Atmadi, Parmono. 1988. Some Architectura Design Principles of Temples in Java; A Study through the Buildings Projection on the Reliefs of Borobudur Temple. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
[5] Mangunwijaya, 1992. Wasthu Citra. Penerbit Gramedia, Jakarta.
Foto-foto
[6] Perjalanan ke Kaliandra, 15-16 Desember 2007. Seluruh foto oleh Probo Hindarto, kecuali disebutkan sumber lainnya.
Sketsa-sketsa
[7] Sketsa Probo Hindarto, Desember 2007

EXTERNAL LINKS:



 ________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2011 astudio Indonesia.
All rights reserved.

Kaliandra dan telaah tradisi arsitektur Nusantara Share on...

0 comments on Kaliandra dan telaah tradisi arsitektur Nusantara :

Post a Comment and Don't Spam!