Showing posts with label special article. Show all posts
Showing posts with label special article. Show all posts

Arsitektur kontekstual dan faktor penentu kebijakan

SELAMAT TAHUN BARU 2012!

astudioarchitect.com Konteks merupakan batasan yang berkaitan erat dengan lokasi sebuah obyek arsitektural, karena arsitektur bisa didesain sesuai atau tidak dengan konteks. Konteks penting karena pengguna rancangan adalah mereka yang terelasikan oleh konteks arsitektural. Konteks arsitektural bisa berarti sejarah, lokasi, arkeologi maupun ekologi disekitar lokasi arsitektur. Konteks mendefinisikan hubungan antara arsitektur dan lokasi serta waktu.  Baik disadari ataupun tidak, arsitektur memiliki hubungan dengan keseluruhan lingkungannya serta selalu memberikan dampak. Arsitektur menjadi penting menyangkut seberapa jauh perancang mengerti tentang hubungan arsitektur dan lingkungannya, untuk mengerti konteks adalah langkah awal dari sebuah desain.




Merupakan suatu konsensus bahwa arsitektur sebaiknya berdampak positif bagi lingkungannya, menaikkan nilai lingkungan melalui keberadaan arsitektur. Terdapat beberapa prioritas yang sebaiknya diperhatikan saat mendesain arsitektur berdasarkan konteks:

Memperkuat komunitas lokal
untuk meyakinkan bahwa pengembangan bangunan yang direncanakan akan memperkuat dan bukan memperlemah komunitas lokal serta mendukung proyek yang sukses bagi perancang, pemilik maupun masyarakat dan lingkungan. Arsitektur tidak bisa berdiri sendiri seperti sebuah tiang yang angkuh dan tidak berdaya guna, sebaiknya arsitektur sedapat mungkin memiliki fungsi meningkatkan komunitas lokal, yang berarti manusia dalam lingkungan tersebut.

Apabila dapat mewujudkan arsitektur kontekstual yang memperhatikan lokalitas serta partisipasi masyarakat, akan menjadi arsitektur yang berguna bagi lebih banyak orang dan lingkungannya.

Menciptakan arsitektur yang berkarakter
mendapatkan inspirasi dari arsitektur lokal bisa membawa kita kepada arsitektur yang 'berkarakter lokal', mungkin sebuah pilihan yang bisa diambil bila dibandingkan jenis arsitektur non kontekstual yang sifatnya 'internasional' dan 'bisa ditempatkan dimana saja'. Karakter lokal bisa didapatkan dari tradisi, nilai lokal, kontemplasi tempat ataupun material lokal, yang pada akhirnya mendapatkan karakter yang bisa dihubungkan dengan lingkungan. Dewasa ini metode perancangan yang diajarkan melalui dunia akademis masuk melalui tunnel 'modern' yang minim nilai-nilai lokal, namun disaat yang sama arsitek dapat mengadaptasi konteks 'lokal' dalam karakter arsitektural.

Memperhatikan potensi dalam site
dengan mengenal konteks lahan, maka arsitek dapat menggali potensi dalam lahan yang berupa topografi, view, drainase, energi matahari dan angin, air, dan sebagainya untuk memperoleh arsitektur yang berkelanjutan.

Integrasi dengan infrastruktur dalam lingkungan
Menemukan integrasi dengan lingkungan menggunakan material, bentuk dan elemen landskap yang memperhatikan lokalitas, jalan-jalan tembusan dan jalan setapak, jalan raya dan jalan kampung yang berkaitan dengan lokasi dan struktur arsitektur. Dengan memperhatikan lebih detail bagaimana pencapaian ke arah site, kemudian memperkirakan ulang saat bangunan sudah terbangun agar selaras dengan infrastruktur yang ada.

Memperhatikan faktor ekonomi
Sebuah bangunan dengan arsitekturnya seharusnya direncanakan dengan memperhatikan aspek ekonomi sehingga dapat terbangun dan memenuhi persyaratan pembangunan. Namun dalam memperhatikan faktor ekonomi seyogyanya tidak melupakan faktor estetika dalam perancangannya.

Memiliki sebuah Visi
Visi yang diemban rancangan arsitektur berfokus pada aspirasi komunitas, serta menyediakan tujuan jangka panjang yang mengandung strategi masa depan.



Dalam mendesain arsitektur dengan konteks, sebaiknya desain yang dihasilkan bisa merangsang tumbuhnya lingkungan yang lebih baik, dimana akan membutuhkan apresiasi terhadap kebiasaan hidup masyarakat lokal yang ditingkatkan. Komunitas masyarakat dalam skala lokal selalu memiliki cara pandang tertentu berkaitan dengan tradisi apabila masih dipegang teguh ataupun sebagian. Pada masyarakat yang lebih modern tradisi lokal kurang diperhatikan karena mengadopsi nilai-nilai yang lebih universal.

Gambaran akan arsitektur lokal biasanya muncul dari tradisi dan cara membangun vernakular, dimana terdapat bahasa tertentu untuk arsitektur lokal ini yang bisa diadaptasi baik sebagai pelengkap ataupun keseluruhan konsep arsitektur yang kontekstual. Arsitektur bisa didesain untuk melengkapi tradisi lokal yang ada sehingga dapat melengkapi identitas budaya lokal. Namun terkadang arsitektur tradisional bisa juga diteruskan dengan mengangkat unsur lokal seperti material dan cara membangun, bisa juga unsur lainnya seperti hierarki, bentukan, dan nilai filsafatnya. Kesemuanya masih bisa dikatakan sebagai 'konteks lokal' apabila masih memiliki karakter tertentu yang diteruskan meskipun merupakan 're-imaging'.

Masyarakat sebaiknya dilibatkan dalam penentuan kebijakan untuk menentukan desain arsitektur terutama bagi bangunan publik / pemerintahan / konservasi cagar budaya.

Terlebih bagi arsitektur yang melayani banyak orang seperti gedung pemerintahan, nilai lokal adalah kebanggaan yang sebaiknya dan setidaknya menjadi sebuah tolak ukur akan penghargaan terhadap budaya lokalnya sendiri. Masyarakat perlu dimintai pertimbangan dalam keputusan desain agar dapat lebih aspiratif, antara lain dengan cara mengumpulkan pendapat menjadi sebuah saran bagi desain arsitektur yang akan dibuat.

Tabel Penentuan Kebijakan 
Dalam menentukan kebijakan akan bangunan terutama bangunan publik, sebaiknya diperhatikan beberapa subyek berikut:

Area subyek:              Pertimbangan:
Profil komunitas          - Pemilik Proyek
                                  - Pandangan lokal, aspirasi
                                  - Struktur organisasi
                                  - data statistik
                                  - karakter budaya
                                  - faktor keamanan

Kebijakan lokal          - Desain
                                  - pandangan strategis
                                  - Rencana Tata Guna Lahan (RTH)
                                  - Rencana transportasi
                                  - Peraturan Daerah
                                  - Peraturan dalam lahan

Konservasi                 - Area konservasi
                                  - bangunan konservasi
                                  - monumen / peninggalan
                                  - Arkeologi
                                  - situs menarik
                                  - obyek alam/ ekologis
                                  - flora dan fauna yang dilindungi
                                  - area konservasi, cagar alam

kebijakan dan             - Petunjuk perencanaan
inisiatif lain                     * framework pengembangan
                                     * Petunjuk mendesain
                                     * peraturan penggunaan lahan
                                  - Peraturan Pemda yang relevan
                                  - Peraturan untuk swasta lain
                                  - inisiatif lokal


Melihat banyaknya unsur yang mungkin terlibat dalam penentuan kebijakan menyangkut arsitektur yang kontekstual, bisa kita pahami bahwa merupakan kebutuhan untuk memiliki sebuah identitas lokal bahkan dalam skala terkecilnya, terkecuali bagi bangunan-bangunan yang diharapkan menjadi non konvensional dengan tujuan prestise, identitas lokal sebaiknya ditunjukkan untuk memberi ciri khas akan 'akar' suatu tempat yang kuat. Dengan memperhatikan bahwa perubahan sangat mungkin ada, maka konteks lokalitas akan merujuk pada unsur-unsur arsitektur maupun nilai-nilai yang dapat dipertahankan pada bangunan lama dan bangunan baru.


                                                       

________________________________________________
by Probo Hindarto,
dirangkum dari berbagai sumber
© Copyright 2011 astudio Indonesia.
All rights reserved.

Kaliandra dan telaah tradisi arsitektur Nusantara

astudioarchitect.com 16 Desember 2007




 'Musik campursari adalah suatu cara agar musik tradisional Jawa bisa survive di jaman modern', sayup-sayup saya mendengar seseorang berbicara hal itu. Saya setuju dengan pernyataan tersebut. Arsitektur tradisional bisa juga hadir dalam konteks baru di jaman modern ini, agar tetap memiliki kelangsungan hidup. Kaliandra adalah sebuah kawasan budaya dengan visi; "Terciptanya manusia yang mandiri, berbudaya dan berkelanjutan". Konsep Kaliandra mirip seperti konsep bangsawan tuan tanah di Eropa jaman dahulu, dengan para pekerja yang bekerja di tanah tersebut. Website Kaliandra dapat diakses melalui www.kaliandrasejati.org




Ini adalah salah satu contoh dimana pemberdayaan lokal hadir dalam wawasan lingkungan. Bersama dengan diwujudkannya arsitektur lokal dan tradisional, pemberdayaan masyarakat lokal melalui budaya melahirkan manfaat, bagi masyarakat sekitar sebagai mata pencaharian, masyarakat sebagai wahana mengenal budaya dan peradaban, serta bagi pemilik yayasan Kaliandra sebagai bagian dari profit yayasan, untuk menghidupi segala kegiatan didalamnya.


Kaliandra hanya salah satu contoh dari berbagai contoh lain disekitar kita, yang bila ditelaah akan memberikan pengertian yang lebih baik tentang peradaban Nusantara pada umumnya. Demikian pula dengan Arsitektur Jawa Timur, sebagai suatu peradaban kedaerahan yang spesifik, hanya salah satu contoh saja dari berbagai peradaban di Nusantara yang masing-masing, adalah sebuah untaian mutiara dari keberagaman sekaligus kemiripan peradaban disekitar Asia Pasifik.


Dalam wujud yang lebih kontemporer, Kaliandra mengusung peradaban arsitektur Jawa Timur dalam wacana bangunan-bangunan yang dapat diapresiasi sebagai bagian dari menyambung kembali peradaban masa lalu.


Hadir dengan tatanan baru, konsep landscape dan bangunan di Kaliandra terinspirasi oleh kejayaan arsitektur masa lalu Jawa Timur.

Tradisi terputus karena tidak adanya regenerasi, atau proses mengenalkan pada generasi selanjutnya, sehingga tradisi seharusnya merupakan sesuatu yang di'getok-tular'kan dari generasi ke generasi. Untungnya tradisi Jawa Timur masih kuat melekat pada sebagian masyarakatnya, terutama yang hidup didesa-desa, apalagi yang hidup didaerah terpencil. Bahkan kebudayaan yang berkembang bisa diurut kembali ke masa lalu. Lain halnya dengan daerah-daerah perkotaan di Jawa Timur, dimana peradaban modern mengambil bagian dari kehidupan masyarakat dengan cukup intens, tingkat kecintaan masyarakat yang kurang tersentuh oleh hasil peradaban modern terhadap tradisi lokal sangat besar dan mendarah-daging.

Arsitektur tradisional dapat melekat kuat dan dipergunakan sehari-hari oleh masyarakat karena memiliki konteks yang sesuai untuk diri mereka. Justru karena arsitektur ini dekat dengan keseharian, filsafat hidup dan kebiasaan sehari-hari mereka, sehingga arsitektur tradisional digunakan. Bila tidak sesuai dengan keseharian, arsitektur vernakular tradisional akan ditinggalkan. Kecuali bagi arsitektur yang monumental dan menjadi prasasti dari filsafat hidup atau keagungan nilai-nilai yang dilestarikan, seperti arsitektur di keraton. Biasanya arsitektur modern dan pendekatan perancangan modern digunakan bagi sebagian masyarakat yang telah berada dalam lingkungan peradaban modern.

Konsep Kaliandra sebagai pemberdaya masyarakat lokal merupakan contoh baik bagi kontribusi penyandang dana bagi lingkungan, tidak hanya dari unsur budaya, namun juga pemberdayaan intelektualitas dan ekonomi masyarakat sekitar. Di Kaliandra, masyarakat sekitar dilibatkan dalam berbagai acara sebagai pekerja operasional, secara berkala Kaliandra juga menyelenggarakan seminar dan sarasehan gratis maupun berbayar bagi masyarakat lokal, komunitas, atau profesi tertentu. Zuraida (dalam [Ref. 3]) berpendapat bahwa desa yang berkembang tidak hanya bermanfaat bagi ekonomi desa itu saja, namun juga bagi tingkat intelektualitas masyarakatnya, karena dengan ekonomi yang lebih baik, sangat mungkin pendidikan bisa lebih maju. Dalam kondisi, wilayah lain dengan potensi lokal berbeda hal seperti ini juga bisa dilakukan. Misalnya; membuat pemberdayaan potensi desa pengrajin, desa tepi pantai, desa agrobisnis dan agrowisata, dengan sistem yang melibatkan masyarakat, yang bisa meningkatkan taraf hidup masyarakat dalam ekonomi, sosial dan budaya.

Arsitektur Tradisional Jawa (dan Nusantara) sebagai bagian dari peradaban dunia

Arsitektur modern dibuat dengan cara pandang berbeda daripada arsitektur tradisional, karena akar desainnya didapat dari kebutuhan dan gaya hidup masa kini yang boleh jadi berbeda dari yang digunakan masyarakat dengan tradisi yang kental. Sebagai contoh; ada rumah tradisional yang minim bahkan tanpa jendela, yang dipandang dari sisi arsitektur modern akan dipandang sebagai rumah tidak sehat. Dalam hal ini, ternyata rumah tersebut memang dibuat tanpa jendela, karena ruang dalam hanya digunakan untuk malam hari (tidur), dan digunakan untuk menyimpan segala harta benda seperti perhiasan, kendaraan, bahkan ternak. Arsitektur tradisional dengan wacana semacam ini tidak bisa dipandang sebagai menyalahi peraturan pemerintah tentang rumah sehat, misalnya, karena konteks tradisi berbeda.

Diagram sejarah peradaban Jawa dibawah ini dibahas untuk memperjelas beberapa hal dibawahnya;


Sejarah Jawa Timur menunjukkan dinamisme dalam kehidupan bernegara yang ada dalam kerajaan-kerajaan masa lalu, yang menyebarkan tradisi lokal Jawa Timur ke berbagai daerah, serta mendapatkan pengaruh dari banyak daerah lain di Nusantara, Asia Pasifik, dan dunia. Arsitektur candi di Jawa Tengah patut disimak, karena arsitektur Jawa Tengah berkembang lebih dulu daripada Jawa Timur. Peradaban di Jawa berkembang dengan pengaruh India dengan agama Hindu - Budha dimana dari perkembangan ini terjadi suatu peradaban yang sangat terorganisir; kerajaan-kerajaan besar.

Candi Dieng di Jawa Tengah, Indonesia.
Sumber gambar: http://www.ecesty.cz/cestopisy/1998cks/obrazky/indonesie/ri_dieng_chramy.jpg

Mengambil contoh arsitektur candi Dieng (ini berada di Jawa Tengah), dengan bentuk candi punden berundak (candi dengan hierarki depan - belakang, bagian belakang lebih tinggi), candi ini memiliki relief yang bila diperhatikan, akan menunjukkan sesuatu fakta sejarah. Reliefnya menunjukkan frame konstruksi kayu, yang menggambarkan bahwa konstruksi kayu adalah jenis konstruksi yang sangat penting dan banyak digunakan waktu candi ini dibuat (sebuah hal yang luar biasa; bangunan berkonstruksi batu yang menggambarkan konstruksi kayu), berbeda dengan candi di India yang hingga abad kesepuluh tidak menunjukkan arsitektur kayu. Hal ini menunjukkan arsitektur candi di Indonesia tidak sepenuhnya diimpor dari India. Sistem konstruksi yang digunakan adalah berasal dari India, namun arsitektur lokalnya berbeda, memiliki gaya tersendiri. Sama seperti saat ini dimana kita mengimpor sistem konstruksi modern yang banyak berasal dari luar negeri terutama dari Belanda, arsitektur masa candi mengambil teknologi konstruksi dari India dan mengembangkan gaya arsitekturnya sendiri. Hal ini mengukuhkan bahwa Jawa tidak terlalu 'silau' dengan kebudayaan yang datang dari India, melainkan mengembangkan diri sesuai karakter lokal yang ada.

Gambaran arsitektur kayu dalam arsitektur konstruksi batu di candi Perwara, Plaosan, Jawa Tengah.
Sumber: [Ref. 4]


Bangunan-bangunan berkonstruksi kayu yang ada di relief candi Borobudur, Indonesia. Menunjukkan konstruksi rumah panggung yang di Jawa tidak populer, namun di pulau-pulau lain populer seperti di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Papua, dan lain-lain, menunjukkan dikenalnya peradaban dari wilayah Nusantara lainnya di Jawa pada waktu Borobudur didirikan.
Sumber gambar; [Ref. 4]

Keunikan bangunan candi juga dapat diambil dari tipologi bangunan candi yang unik dan memberi gambaran hubungan dengan bangsa lain di masa lalu. Candi Sukuh adalah candi yang cukup unik juga di Jawa Tengah, bahkan sangat unik karena jenis arsitektur yang digunakan tidak lazim terdapat di Jawa ataupun India. Candi ini berbentuk piramid terpancung.



Candi Sukuh di Solo, Jawa Tengah, Indonesia.
Sumber gambar: http://www.tournonsensemble.com/indonesie/indonesie_photos.htm






Piramid Kebudayaan Maya, Amerika Selatan
sumber gambar; http://www.whitebison.org/magazine/2003/volume4/images/vol4no21/photo1.jpg

Dari sisi bentuk, arsitektur candi ini tidak dapat ditemui di mana saja di Nusantara dan Asia, namun hanya ditemukan di bangunan-bangunan tua di Amerika Selatan. Hal ini merupakan suatu hal yang dapat menunjukkan kemungkinan kuat adanya hubungan antara Jawa dengan Amerika selatan jauh di masa silam. Selain itu bentuk patung-patungnya juga hampir mirip (bentuk estetika patungnya mirip). Bentuk patung dan relief dengan proporsi patung 'tak lazim' juga ditemukan di berbagai kebudayaan, antara lain; Jawa, Timur Leste, Batak, Kalimantan, Minahasa, dan sebagainya dimana hal ini menunjukkan kemungkinan pernah terjadinya hubungan budaya antara berbagai peradaban tersebut. Banyak peninggalan berasal dari masa megalithikum (peradaban batu besar). Patung-patung ini tentunya memiliki estetika yang tidak sama dengan patung-patung di Eropa.


Relief Candi Sukuh, Solo, Indonesia
sumber gambar; http://www.geocities.com/javakeris/kerisologi.htm






Patung-patung di Candi Sukuh, Jawa Tengah; estetika patung yang 'tak lazim' yang mirip dengan patung-patung dari kebudayaan Maya Inca, di Amerika Selatan.
Sumber gambar; blontankpoer.blogsome.com







Dua estetika berbeda; timur dan barat. Patung Durga dari kerajaan Singhasari (Malang, Indonesia) yang sekarang ada di Belanda, dan patung hiasan di gedung opera di Paris. Yang satu berlandaskan kepekaan dimensi kosmologis metafisik, yang lain berlandaskan realisme estetika erotisme fisik.
Sumber; Wasthu Citra

Kata 'Rumah' adalah kata yang menarik dipandang dari sisi penggunaan kata ini oleh berbagai peradaban disekitar Asia Pasifik. Dalam bahasa Jawa, Rumah adalah o-mah. Di Nias disebut o-mo, di Batak disebut huma, di NTT disebut u-me. Di kepulauan Pasifik sebutan untuk rumah banyak memiliki persamaan, seperti amo, oma. Hal ini menunjukkan bahwa peradaban Jawa adalah sebuah bagian besar dari peradaban Asia Pasifik, dimana Nusantara menjadi area sirkulasi yang sangat padat di masa lalu sebagai penghubung antara Mesir dan Asia Pasifik.

Untuk melihat kemiripan estetika hasil budaya di Nusantara dan salah satu kepulauan di Pasifik, kita bisa melihat contoh dari Papua dan kepulauan Easter.

Salah satu patung modern di Papua, terlihat estetika patung 'tak lazim' yang masih dipelihara hingga saat ini. Bandingkan kemiripan estetika ini dengan patung di kepulauan Easter dibawah ini.
Sumber foto: http://www.papuaweb.org/gb/foto/muller/ecology/05/index.html



Patung-patung dari jaman Megalith di Easter Islands, Pasifik. Jenis estetika 'dunia Timur'.
sumber gambar: http://www.easterislandquest.com/img-welcome-easter-island.jpg

Kata lain yang dapat menunjukkan yang disebut 'kata yang menggambarkan persatuan peradaban Nusantara adalah kata Ratu dalam bahasa Jawa, Datu dalam bahasa Melayu (atau Datuk), Ratu dalam bahasa Fiji, dan semacam itu yang digunakan dalam peradaban sekitar Asia Pasifik, serta masih digunakan di Jawa [Ref. 8]. Peradaban ini dalam sejarah linguistik disebut sebagai Austronesian, yang merupakan wilayah penyebaran bahasa Astronesian yang tersebar, dari Asia ke Pasifik [Ref. 9]. Bahkan pada 1500 AD, Austronesian telah mengambil bagian dari hampir separuh dunia dalam perkembangan tutur bahasa, dari Madagaskar hingga kepulauan Easter. Tak heran bila dalam perkembangan itu juga berbagai budaya saling bersentuhan dan ditularkan. Indonesia berada dalam arus lalu lintas yang menghubungkan Asia dan Pasifik, tentunya pengaruh yang datang ke Indonesia tidak hanya dari Asia Tenggara saja, namun juga dari Kepulauan Pasifik, Micronesia, India dan wilayah-wilayah lain dalam area ini.

Tidak mengherankan pula bila Indonesia memiliki kebudayaan yang sangat kaya, karena merupakan bagian dari peradaban Asia Pasifik. Disamping itu, faktor sedikit terisolasinya pulau-pulau mencetuskan kebudayaan masing-masing daerah yang sangat unik dan beragam, serta memiliki karakter kuat untuk masing-masing daerahnya. Perkembangan Austronesia menurut tumpang-tindihnya kebiasaan (overlapping behaviour) bertutur bahasa memang tidak bisa dengan mudah dikaitkan dengan penyebaran budaya, namun ada kaitan yang sangat erat antara penyebaran dan percampuran bahasa dengan kemungkinan penyebaran budaya yang dapat terjadi seiring hal tersebut. Perkembangan ini diindikasi telah berlangsung dalam 6000 tahun, sejak jaman sebelum sejarah [Ref. 8].


Akar budaya Nusantara, berakar dan berhubungan dengan India, Asia, Nusantara, Australia, Mikronesia, dan lebih jauh; Amerika Selatan.

Dalam contoh lingkup yang dibahas dalam artikel ini, arsitektur rumah di Jawa Timur mengalami banyak perubahan. Pada dasarnya arsitektur rumah dan bangunan lainnya adalah arsitektur kayu, dimana menurut relief candi-candi di Jawa, adalah bangunan yang mendominasi di tanah Jawa, dan Nusantara pada umumnya. Arsitektur kayu adalah arsitektur dengan bahan dasar dasar dan konstruksi kayu, sedangkan arsitektur batu seperti arsitektur Eropa dan candi-candi di Indonesia dan India dibuat dari konstruksi massa (mass construction) berbahan dasar batu. Arsitektur rumah memiliki banyak jenis rumah berdasarkan bentuk atapnya. Ada rumah Tajug, Rumah Kapung (bukan Kampung), Rumah Limansap (bukan Limasan), Joglo, dan sebagainya. Menurut Prijotomo [Ref. 1], Joglo adalah tipe bangunan yang termuda, karena joglo tidak pernah digambarkan dalam candi-candi di Jawa. Hal ini menunjukkan arsitektur Joglo yang sekarang masih ada di Jawa Timur dan Jawa pada umumnya merujuk pada 'tren' arsitektur Jawa termuda, yaitu joglo. Joglo yang banyak di Jawa ternyata tidak hanya berada di Jawa melainkan juga di daerah-daerah lain di Nusantara, seperti di Sumba, Lombok, dan lain-lain. Bentuk joglo di Sumba dan Lombok sudah ada sebelum abad ke-15 sehingga hal ini menunjukkan hubungan antara Jawa dengan Indonesia Timur, dimana arsitektur Joglo boleh jadi 'terinspirasi' oleh arsitektur dari wilayah Indonesia Timur tersebut.





Joglo khas Sumba
sumber gambar; https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgYUZVCPUgTfl6AQsj0qaZWZtvbNOy20Tn690ZGkdH4sVCnFtZrUaiZ53mfiaZrifH_4HokenRlualUh5eCCIujlsHYVpPehvvE7f4Eb1YpfYawx0RfHHi9hMseLXZsbOE6uGCPDSu2Mlii/s1600-h/rmh+sumba.jpg

Melestarikan tradisi arsitektur dalam konteks baru di jaman modern
Dalam hal ini berarti turut serta melestarikan rentetan peradaban arsitektur di sepanjang Asia Pasifik, dalam lingkup kecilnya; budaya lokal Jawa - Nusantara yang menjadi bagian dari peradaban yang lebih besar. Kelangsungan ini menunjukkan tidak terputusnya tradisi, dapat dipelajari di masa depan sebagai 'menghadirkan kembali kejayaan masa lalu' seperti halnya kelahiran kembali peradaban Eropa di masa Renaissance. Bentuk Joglo dipakai dalam sebagian bangunan di Kaliandra, dimana bentuk ini merupakan ciri khas bangunan Jawa Timuran yang dibuat dengan konstruksi dan konteks modern.




Pendopo di bagian depan kawasan





Pendopo dan landscaping di area depan Kaliandra





Pendopo bagian 'atas' kawasan





Arsitektur kayu di Kaliandra, berhubungan atau terinspirasi dari arsitektur khas Jawa lainnya, seperti seperti bangunan di keraton Jogja.






Digunakannya batu-bata sebagai pelapis dinding dan lantai mengingatkan kita pada arsitektur candi peninggalan Majapahit di Trowulan, Jawa Timur

Kaliandra memiliki keunikan dalam bangunan-bangunannya, dimana selain tradisi arsitektur lokal Jawa dihadirkan dalam bentuk bangunan, terdapat pula pengaruh arsitektur Eropa yang hadir dalam ornamentasi dan detail bangunannya. Bahkan terdapat pula arsitektur bangunan yang 'sangat Eropa'.










Bangunan-bangunan yang 'sangat Eropa' di Kaliandra.

Akulturasi




Akulturasi dalam bangunan ini saja; sistem konstruksi modern, tata nilai arsitektur Jawa, patung bentuk 'tak lazim' dari kebudayaan primitif banyak peradaban di seluruh dunia, patung tembikar gaya eropa diatas kolom-kolom bata candi Trowulan.






Patung tembikar di Kaliandra, yang sudah agak meninggalkan ciri khas patung estetika 'tak lazim' dari dunia timur, menuju ideal barat.

Sketsa







(Probo Hindarto)

***
REFERENSI
Materi Seminar
[1] Materi seminar 'Arsitektur Jawa Timuran' oleh Joseph Prijotomo, 15 Desember 2007; "'Sejarah' dan Perkembangan Arsitektur di Jawa Timur - Tantangan untuk Re-orientasi Pemahaman"

Buku
[2] Ismunandar. Joglo, 2007. Arsitektur Rumah Tradisional Jawa. Penerbit Effhar, Semarang.
[3] Silas, Johan, dkk. 2000. Rumah Produktif, dalam dimensi Tradisional dan Pemberdayaan. UPT Penerbitan ITS, Surabaya.
[4] Atmadi, Parmono. 1988. Some Architectura Design Principles of Temples in Java; A Study through the Buildings Projection on the Reliefs of Borobudur Temple. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
[5] Mangunwijaya, 1992. Wasthu Citra. Penerbit Gramedia, Jakarta.
Foto-foto
[6] Perjalanan ke Kaliandra, 15-16 Desember 2007. Seluruh foto oleh Probo Hindarto, kecuali disebutkan sumber lainnya.
Sketsa-sketsa
[7] Sketsa Probo Hindarto, Desember 2007

EXTERNAL LINKS:



 ________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2011 astudio Indonesia.
All rights reserved.

Menata kumpulan bangunan, dan taman agar tercipta ruang positif

astudioarchitect.com Bila kita mendesain sebuah bangunan, kadangkala terdapat satu atau lebih massa bangunan, yang biasanya disebut sebagai blok bangunan. Apakah itu rumah tinggal, kawasan perumahan, ataupun sebuah blok kecil ditengah kota, berupa mall atau kumpulan bangunan. Tahukah Anda bahwa kumpulan bangunan memiliki dampak pada bagaimana bangunan dan areanya bagi kita? Ini adalah artikel yang berkelanjutan untuk mempelajari tentang penataan bangunan, yang pada akhirnya berpengaruh pada kota.

Photo by: PictureNinja.com


Photo by SFBC Operations, CC by

Photo by Lesley Middlemass, CC by

Semua bangunan berpengaruh pada bentuk dan fungsi ruang luar atau lingkungan dari bangunan tersebut. Untuk mencapai lingkungan yang baik, maka bangunan harus diintegrasikan dengan lingungan sehingga tidak terkesan berdiri sendiri. Misalnya: disekitar bangunan seperti di kampung, misalnya, terdapat berbagai aktivitas seperti berjalan di taman, bersepeda, menikmati bangunan dari luar atau dari sekitar bangunan, menaiki kendaraan baik motor ataupun mobil.

Selain itu dalam sebuah lingkungan luar kita selalu mendapati adanya tanaman, taman, perkerasan, trotoar, dan street furniture yang lain. Bentuk penataan dari blok bangunan berpengaruh langsung terhadap kesan dari bangunan. Kita tidak bisa menutup mata terhadap kesan bangunan, apakah terdapat pohon atau taman didepannya, ataukah benar-benar gersang tanpa tanaman, dimana ruang luar hanya diperuntukkan bagi mobil dan motor semata.

Tata bangunan seperti pada gambar menciptakan ruang negatif atau positif. Ruang negatif terbentuk saat dua massa bangunan, misalnya dua rumah berdekatan, tanpa adanya cara untuk memperbaiki lingkungan dengan taman ataupun tempat berkumpul. Dengan menambahkan bangunan, pohon, dinding atau pagar, maka bisa meningkatkan kesan lingkungan yang jauh lebih baik dengan ruang positif. Cara ini misalnya seperti yang banyak ada di kota-kota kita misalnya alun-alun kota, sebuah area publik yang dikelilingi oleh bangunan-bangunan sehingga bisa dipakai oleh penduduk kota berinteraksi dan bercengkerama.

Dalam skala lebih kecil, bisa diwujudkan misalnya dengan memperbaiki desain lingkungan kampung, menciptakan area untuk berkumpul misalnya playground, taman kampung, trotoar, dan sebagainya. Karena dengan lingkungan yang baik dimana kita bisa berjalan-jalan, berkumpul dengan tetangga dan saling menyapa, maka penduduk akan semakin bahagia.

Inilah yang semakin hilang dari kota-kota di Indonesia, dimana untuk menentukan dimana taman kota, adalah peran pemerintah. Sayangnya pemerintah lebih suka memperhatikan tentang bangunan saja, namun kurang memperhatikan lingkungan, akibatnya adalah pohon-pohon banyak berkurang, taman kota dijual sebagai area perumahan dan mall, trotoar tidak diperhatikan, lebih mementingkan bangunan komersial dan menggagalkan tujuan utama perancangan kota, yaitu bermanfaat dan berguna bagi warga kebanyakan.

 ________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2011 astudio Indonesia.
All rights reserved.

Arsitektur dan musik

astudioarchitect.com Dua artikel ini ditulis oleh Jolanda Atmadjaja Herlambang dan Probo Hindarto. Bagian pertama tentang musik dan pengaruh pada manusia terutama dari sisi kebudayaan dan arsitektur. Bagian kedua tentang arsitektur sebagai musik yang beku.

ditulis pada 03 Pebruari 2008, 30 Maret 2008, dan 7 Februari 2011
_________________________________________________________


Musik dan Desain
Esai 1 oleh : Jolanda Atmadjaja Herlambang


Picture: Some rights reserved by Joel Bedford


Musik merupakan satu bentuk kesenian yang memiliki kekuatan untuk mempengaruhi sisi personal manusia, bersifat universal – mampu dinikmati beragam kalangan usia, status, latar belakang budaya, dsb. Kekuatan musik mampu menembus batas ruang dan waktu. Hal ini yang menjadi inspirasi untuk menelaah lebih jauh sejauh mana kekuatan musik mampu merambah pula ranah desain. Tulisan ini merupakan pengantar dan diperlukan penelitian lebih lanjut untuk menganalisa lebih jauh keterkaitan musik dengan desain, khususnya desain interior dan arsitektur.


Beberapa waktu lalu saya melihat tayangan tentang distro (distribution outlet) ‘berjalan’ - yang memanfaatkan area dalam sebuah bis untuk showroom. Fenomena menarik karena distro bukan sekedar ‘berdagang pakaian’, tapi merupakan bisnis ‘image’ dan gaya hidup. Kasus distro ‘berjalan’ melengkapi gejala penerapan konsep ‘high touch’ dalam sistem penjualan, yang merupakan bentuk ‘komunikasi visual’ yang efektif untuk masa kini.

Pengaruh musik pada desain fashion mulai marak sejak munculnya artis dan kelompok musik fenomenal seperti Elvis Presley, The Beatles, The Rolling Stones, Michael Jackson, Madonna, Bob Marley, dll. Gaya busana artis dan musisi tersebut menjadi trend khususnya di kalangan anak muda.




Fashion dan musik yang menjadi penanda jaman
Some rights reserved by MĂ´sieur J

 Distro dikenal di Indonesia merupakan salah satu perwujudan ekspresi diri bagi komunitas ‘underground’, penikmat musik ataupun jenis aliran musik tertentu, juga extreme sport seperti skateboard, surfing,dll. yang dirintis sekitar tahun 1990-an di Bandung. Perkembangan distro menjadi salah satu wujud nyata keterkaitan musik dengan desain dan dilatarbelakangi budaya pop, gaya hidup, konsumerisme sebagai pemicu perkembangan. Karakteristik musik ataupun kelompok band yang diusung menjadi sumber inspirasi bagi visualisasi dari ekspresi diri tersebut, baik dalam bentuk desain merchandise berupa t-shirt, aksesori, tas, produk, cd, maupun desain furniture, interior. Tampilan grafis pendukung image menjadi salah satu upaya penciptaan ‘sense of place’.

‘Sense of place’ yang diciptakan melalui pemanfaatan multi media, audio visual sebenarnya telah ada jauh sebelum budaya pop merebak. Spirit jaman dan dimensi estetis menjadi benang merah antara musik dan desain. Musik dengan beragam kompleksitas komposisinya berkembang sejalan dengan perkembangan pola pikir dan cara hidup masyarakat berikut ekspresi seni dan pemecahan masalah terhadap kondisi lingkungan sekitarnya.

Sejak awal peradaban dengan peralatan sederhana musik digunakan untuk hubungan transendental, pelengkap upacara, pengiring tarian, dsb. Pada perkembangan selanjutnya di mana sistem politik, organisasi sosial diterapkan, musik berkembang pula menjadi salah satu pelengkap perang, penyampai pesan, dsb.





Di masa Abad Pertengahan di Eropa dengan Gotik sebagai puncaknya – segala bentuk kehidupan diorientasikan pada kehidupan Gereja (Katolik). Perkembangan musik Gregorian sebagai musik Gereja, penerapan seni kaca patri dan konstruksi bangunan gereja yang monumental (struktur langit-langit tinggi kubah ber-rusuk/ribbed-vault, menara, triforium,dll.) merupakan pencapaian kesan vertikal, agung sebagai ekspresi iman dan simbol hubungan Tuhan dengan manusia.

Musik Barok yang menekankan ornamentasi rumit pun sejalan dengan desain interior dan arsitektur yang berorientasi pada detail dan ornamen di seluruh elemen ruang dan bangunan termasuk penerapan lukisan pada plafon berbentuk kubah. Pada arsitektur gereja gaya Barok dikategorikan bersifat dramatik, ekspresif.

Jika kemudian yang dikenal adalah Barok (Inggris: baroque), maka asal-usulnya adalah barroco yang berasal dari bahasa Portugis, untuk menyebut mutiara yang bentuknya tidak beraturan dan digunakan untuk menjelaskan bangunan yang konstruksinya melengkung serta sangat kaya dengan dekorasi.
Khususnya tentang musik Barok, orang mengenalnya sebagai musik yang amat emosional. Salah satu ciri utamanya adalah munculnya pencampuran larik-larik melodi yang berlainan. Tetapi, meskipun berlainan, larik-larik tersebut tetap dalam batas asas tempo harmonik. Pada zaman itu komposer melakukan eksperimen dengan instrumen-instrumen berbeda
(http://www.melodiamusik.com/classic/index.php?option=com_content&task=vie w&id=62&Itemid=30 - dikutip dari Kompas)
Sementara untuk budaya Nusantara salah satu contoh adalah penerapan kesan dinamis, alami, penerapan warna primer dominan merah, orientasi simbol dan detail, kompleksitas komposisi dan pengerjaan menjadi beberapa ciri bangunan tradisional Bali, yang kita dapati pula sebagai karakteristik perlengkapan seharihari seperti pakaian adat, peralatan dan bentuk seni lain : lukis, musik, tari, dll.

Dalam perjalanan waktu munculnya budaya pop menjadikan sosialisasi musik menjadi lebih pesat berkembang, termasuk industri rekaman. Industri musik menjadi pemicu perkembangan total design : produk, fashion, grafis, interior dan arsitektur sebagai bagian dari sistem pemasaran dan apresiasi seni. Perkembangan teknologi menunjang perkembangan elektro-akustik juga tata suara elektronik dan multi-media. Teknologi digital dan informasi semakin melengkapi keterkaitan musik, seni visual seperti film, seni instalasi, dan desain, di mana internet, mobile phone, dll. menjadi media ampuh untuk penyebaran dan apresiasi.

Kemajuan teknologi memberi warna pula pada perkembangan desain interior dan arsitektur yang mewadahi kegiatan bermusik ataupun kegiatan apresiatif lain, seperti perkembangan desain set panggung pertunjukan, gedung pertunjukan dan museum seni.




 Pada kasus desain set panggung : pertunjukan musik, selain ditunjang oleh koreografi, pertunjukan musik didukung pula oleh penerapan set panggung dengan memanfaatkan teknologi lighting, tata suara, panggung bergerak (system hidrolik, berputar,dll.), motion graphic pada layar LED sebagai bagian dari pertunjukan.

Keseluruhan aspek tersebut (lagu, musik, tata cahaya, suara, efek visual lain, motion graphic, dll) menyatu dalam satu tema sesuai karakter pertunjukan yang ditampilkan. Untuk kasus museum salah satu contoh adalah Experience Music Project di Seattle karya Frank O. Gehry, yang merupakan museum musik dengan penerapan teknologi mutakhir, interaktif. Selain berfungsi sebagai museum EMP berfungsi pula sebagai wadah berkumpul para musisi, workshop, studio lab, dsb.

Secara arsitektural penerapan paduan bahan metal pada ruang dan bangunan, pemanfaatan bahan alam untuk area pajang, bentuk-bentuk lentur, penataan tidak teratur, konstruksi baja, penerapan warna beragam : merah, kuning, ungu, biru, dsb. dinamis mencerminkan pula citra perkembangan dinamika perkembangan musik di Amerika khususnya (rock and roll, gospel, R & B,dll.). Dinamika tercermin pula pada penerapan simulasi live concert dengan pemanfaatan teknologi multi media yang sebagai media interaktif, yang ditunjang tata cahaya dan akustik yang memadai.





Frank O. Gehry & Associates
Experience Music Project
Seattle, Washington
Sumber gambar : Flickr, Creative Commons Lisence.


Musik dapat menjadi sumber inspirasi dalam desain. Kepekaan akan prinsip estetika : harmoni, ritme, keseimbangan, penekanan, dll. juga tema dan karakter spesifik lain adalah kunci, yang menjadikan musik sebagai bagian dalam proses perancangan, baik desain produk, tekstil, fashion, grafis, interior, arsitektur maupun kawasan. Kesan psikologis warna, bahan dan konstruksi melengkapi pula perwujudan desain yang utuh dan integral. Sebagai contoh : Musik rock yang berkonotasi maskulin, keras, dinamis dapat divisualisasikan dalam desain interior dan arsitektur melalui penerapan hi-tech pada konstruksi, bahan metal, dominan hitam putih, bentuk geometrik tegas, dengan penataan asimetrik.

Pada perkembangan di era konseptual seperti sekarang area-area publik seperti restoran, café bergaya retro dengan mengambil tema aliran musik tertentu juga merupakan contoh bagaimana kekuatan memori terhadap popularitas jenis maupun kelompok musik tertentu menentukan segala bentuk desain, dari pemilihan jenis dan nama makanan, penyajian, suasana ruang, tampilan grafis, penamaan area makan, brand berikut segala bentuk image yang ingin ditampilkan hingga tampilan fisik interior, arsitektur dan lansekap.

Desain berkembang dinamis sejalan dengan spirit jaman. Keterkaitan musik dengan desain menjadi salah satu fenomena alam yang menunjukkan bahwa desain merupakan harmoni, sebagaimana juga alam semesta. Mikrokosmos mencerminkan makrokosmos.

.
_________________________________________________________

Arsitektur; Musik yang Beku
Esai 2 Oleh: Probo Hindarto



Catatan Probo Hindarto:


Mengarungi sensasi lewat nada-nada musik.
Photo source: Flickr, CC lisence

Apakah jenis musik tertentu dapat dihubungkan dengan jenis arsitektur tertentu? Mengapa sebagian orang sepertinya memiliki preferensi terhadap desain dan juga musik? Musik juga dapat menimbulkan mood tertentu, sebagaimana arsitektur. Artikel ini adalah salah satu jurnal untuk menuju pemahaman tentang arsitektur; musik yang beku.

Arsitektur adalah musik yang beku diungkapkan oleh Pytagoras. Dalam tradisi Pytagorean, musik itu adalah aplikasi angka-angka yang diwujudkan dalam nada-nada. Sama seperti arsitektur, dimana sebuah bangunan disusun oleh material yang memiliki dimensi, angka-angka. Dimensi musik yang memiliki dua ruang dalam waktu, yaitu nada dan sunyi, seperti arsitektur menempati ruang nyata dalam solid dan void. Bila dibandingkan, baik musik dan arsitektur memiliki dimensi angka yang diwujudkan melalui 'meterial'nya masing-masing. Saat mendengarkan musik, sebuah sensasi dapat muncul mengingatkan kita pada sebuah memori dalam hidup kita.

Dalam menjelaskan tentang dunia angka yang dapat menyimpan informasi dari dunia nyata, ilustrasi paradox berikut diharapkan dapat memberikan gambaran;

1 Dr. Zeta adalah seorang ilmuwah dari Helix, sebuah galaksi di lain dimensi waktu dan ruang. Suatu hari, Dr. Zeta mengunjungi bumi untuk mengumpulkan informasi tentang manusia. Dia disambut oleh seorang ilmuwan bernama Herman.

2 Herman: Mengapa kamu tidka bawa saja satu set Encyclopedia Britannica? Itu adalah kesimpulan yang bagus dari seluruh pengetahuan kami.
Dr. Zeta: Ide bagus Herman. Sayangnya saya tidak bisa membawa sesuatu yang berat seperti itu.

3 Dr.Zeta: Bagaimanapun juga, saya dapat meng-encode seluruh ensiklopedia itu pada sebuah batang metal. Satu tanda diatasnya akan dapat menampung semua informasi itu.
Herman: Apakah kamu bergurau? Bagaimana sebua tanda kecil bisa membawa informasi yang begitu banyak?

4 Dr. Zeta: Pada dasarnya, temanku Herman. Ada kurang dari seribu huruf dan simbol berbeda dalam ensiklopedimu. Saya akan menggantikan sebuah huruf dengan nomor dari 1 hingga 999 untuk setiap huruf atau simbolnya, dengan menambahkan angka nol disisi kirinya bila dibutuhkan sehingga setiap angka yang digunakan akan memiliki 3 digit.

5 Herman: Saya tidak mengerti. Bagaimana kamu akan meng-kode-kan kata kucing (cat)?
Dr.Zeta: Sangat mudah. Kita gunakan sistem kode seperti yang baru saja saya beritahukan. 'Cat' akan dikodekan sebagai 003001020

6 Menggunakan komputer sakunya yang sangat canggih, Dr.Zeta memindai (scan) seluruh ensiklopedia dengan cepat, mengtranslasikan seluruh isinya dalam sebuah angka yang sangat besar. Dengan menambahkan sebuah titik desimal didepan angka tersebut, dia menjadikannya sebuah fraksi (pembagian) desimal.

7 Dr. Zeta kemudian meletakkan sebuah tanda pada sebuah batang tongkat miliknya, membaginya secara sangat akurat panjang a dan b, sehingga fraksi a/b menjadi sama dengan fraksi desimal kodenya

8 Dr. Zeta: Ketika saya sudah kembali ke planet saya, satu dari komputer kami akan mengukur a dan b secara tepat, kemudian menghitung a/b. Fraksi desimal itu akan di-dekode-kan, dan komputer kami akan mencetak ensiklopedia kalian untuk kami!
Melalui paradox dan hubungan tiga titik tersebut, maka jarak antara sebuah titik dan segala titik lain didunia ini dapat menyimpan sebuah cerita, sebuah ensiklopedia, atau sebuah kejadian dan apapun yang lain. Jarak antara tiga titik didunia ini dapat berarti apa saja, dan dengan demikian maka dunia ini mengandung berbagai hubungan yang tidak terbatas. Bayangkan memiliki sebuah stik dengan tiga titik, yang ternyata menghubungkan Anda dengan sebuah kejadian lain dimuka bumi, bahkan apapun. Dan karena itu, musik selalu dapat menghubungkan kita dalam berbagai memori, karena angka-angka dan jarak antar nadanya, ternyata dapat dijelaskan melalui metoda ini, memiliki hubungan dengan 'sesuatu' yang lain di alam semesta. Namun, apa yang ditunjukkan oleh setiap jarak antar benda dalam kehidupan sehari-hari, adalah sesuatu yang seringkali tidak dapat terjelaskan.

Jarak itu, seperti jarak antar nada dalam musik atau antar dua titik dalam sebuah bangunan, mungkinkah menghubungkan saya pada realitas yang lebih tinggi? Mungkinkah jarak antara saya, tembok dan jalan memiliki sebuah hubungan unik? Mengingat lagi hubungan saya dengan seluruh alam semesta, dimana didalam semesta terdapat titik-titik tak berhingga, maka apa yang dapat terhubung dengan saya juga menjadi tidak terbatas.
Segala hubungan antara berbagai entitas di alam semesta dapat menunjukkan fakta akan adanya ketidakberhinggaan; salah satu dari sifat Tuhan. (sesuai dengan kepercayaan saya)




Maka saya hanya dapat mengatakan; Tuhan benar-benar Maha Besar.
Dalam hal ini, tidak heran bila kita bergerak antara satu titik ke titik lainnya dalam bangunan secara relatif, dapat 'terasa' dan muncul berbagai memori. Hal inilah yang dicoba untuk dijelaskan dan dipahami melalui ilmu-ilmu seperti Feng Shui atau petungan Jawa.
Musik yang selalu berhubungan dengan angka-angka, seperti halnya arsitektur yang berhubungan dengan angka-angka. Dalam musik, waktu adalah ruang bagi angka-angka nada untuk diwujudkan, dalam arsitektur, ruang itu lebih lengkap dengan realitas nyata yang memuat angka-angka tersebut. Dalam musik, nada-nada itu adalah angka-angka disusun, didesain dan diwujudkan dalam harmoni ruang waktu. Dalam arsitektur, material itu adalah nada-nada, yang disusun dalam berbagai dimensi panjang, volume yang menjadi harmoni dalam ruang nyata.
Angka-angka itu, dalam musik merupakan nada-nada bila dibunyikan, dan dalam arsitektur merupakan dimensi dari masing-masing elemen arsitektur. Sebagaimana musik dapat mempengaruhi perasaan manusia akibat sensasi yang diterima, arsitektur dapat pula mempengaruhi manusia akibat sensasi visual. Sebagaimana hubungan harmoni beberapa nada dapat menimbulkan sebuah sensasi, angka-angka dimensi panjang dan ruang dalam arsitektur berpotensi pula menimbulkan sebuah sensasi.
Musik berperan sebagai angka-angka yang diwujudkan dalam nada, yang menimbulkan sebuah ruang dalam waktu, realitasnya dapat diwujudkan secara nyata dalam dunia kita melalui arsitektur, karena pada dasarnya arsitektur tersusun pula oleh angka-angka, bahkan memiliki karakter yang sama seperti musik; ritme, sequence, dan sebagainya. Bayangkan angka-angka sebagai deretan panjang kolom yang dijajarkan, maka arsitektur menjadi sebuah musik yang beku.



Deretan kolom-kolom, adalah contoh yang baik untuk ritme dalam arsitektur. Berjalan melaluinya seperti melalui ruang waktu dalam musik.

Angka, sebagai nilai dari sebuah nada, laksana dimensi dalam arsitektur. Sebuah deretan angka-angka yang direncanakan, seperti deretan gelas yang diberi isi berbeda-beda sesuai angka-angka dan dibunyikan bersama-sama, dapat menimbulkan harmoni. Demikian pula arsitektur, yang disusun oleh deretan angka membentuk sebuah harmoni. Dalam arsitektur klasik, yang dimulai oleh Vitruvius dan disempurnakan Leonardo Da Vinci, komposisi angka-angka sebagai perbandingan dalam ukuran anatomi manusia dipakai sebagai dasar menentukan golden section, yang dianggap sebagai komposisi terbaik untuk sebuah bangunan dan digunakan dalam bangunan-bangunan kuil Romawi.
Arsitektur Alam

butiran salju,

Sunny snow, photo by Superdecor, stock.xchange

Daun-daun yang bentuknya hampir sama

Photo by Lizerixt, stock.xchange

Awan

Photo by hbrinkman, stock xchange
Apakah alam memiliki sebuah arsitektur? Sepertinya, Tuhan juga memberikan aturan bagi setiap benda hidup. Bagaimana manusia yang memiliki dua mata, hidung, mulut dan dua telinga bisa memiliki begitu banyak ragam wajah. Daun yang bentuknya hampir sama pada sebuah pohon, tampaknya memiliki sebuah aturan khusus saat dia berkembang.
Aturan ini nampaknya yang membuat daun waru berbentuk hati, daun pisang bentuknya panjang dan lebar, namun 'arsitektur' yang ada ini dipengaruhi oleh faktor-faktor yang sempurna, intuisi kehidupan anugerah Tuhan. Bahwa sepotong daun dapat memutuskan dirinya berdiameter 5cm, dengan bentuk lonjong, adalah keputusan-keputusan alami yang didasarkan pada kebutuhan untuk mendapatkan metabolisme terbaik pada proses fotosintesisnya.
Sebuah terminologi yang ditemukan oleh Benoit Mandelbrot yaitu 'fractal geometry' telah membuka kemungkinan memahami intuisi alami masing-masing benda alam untuk berbentuk seperti adanya. Butir salju (snowflakes), daun, awan, dan sebagainya dapat disimulasikan melalui aturan-aturan yang dapat dipahami oleh manusia; sebuah rumus untuk geometri alam, dengan kata lain; arsitektur alam. Bahkan kemudian arsitektur dan bentuk benda alami seperti daun, butiran salju, dan pepohonan dapat disimulasikan melalui program komputer.


Fractal geometry. Dapat disimulasikan melalui program komputer.
gambar dari: Flickr, CC lisence



Geometri fractal ini, tidak sama seperti geometri Euclidean yang sering digunakan dalam arsitektur buatan manusia, memiliki unsur ketidakpastian yang ditemukan dalam chaos theory, sebuah teori yang menunjukkan bahwa meskipun bentukan alam seperti daun memiliki kecenderungan untuk bertumbuh dengan bentuk sama, namun selalu ada faktor ketidakpasitan yang tidak dapat dijelaskan. Barangkali, inilah yang disebut kuasa Tuhan.
Arsitektur manusia
Manusia dengan kesadaran sederhana yang belum dapat mengungguli alam dan kuasa Tuhan, sangat menyukai arsitektur dengan geometri Euclidian yang sederhana dan mudah dipahami, namun telah memberikan sebuah sensasi layaknya mendengarkan musik, adalah mahluk yang sangat diberkati. Arsitektur manusia yang penuh dengan angka-angka, yang barangkali telah begitu disederhanakan sehingga mencapai ruangan kamar tidur: 3 x 3 m2, adalah contoh dari perhitungan sederhana manusia akan dimensi dan ruang.


Ruang ini, karena adanya angka tak hingga yang diterapkan melalui penggunaan view tak berbatas melalui kaca, adalah contoh arsitektur yang membebaskan dari segi visual maupun kesan ruang.

Ruang ini, adalah ruang dengan kesan mencekam, yang diakibatkan implementasi berbagai batasan seperti dimensi ruang dan angka pencahayaan yang rendah.
Photo by Jay Simons, stock.xchange

Photo by: Roger Waleson, stock.xchange
Suasana lingkungan binaan hasil budaya manusia, yang dibentuk terutama oleh penggunaan geometri Euclidean yang mudah dipahami, baik dari sisi desain maupun apresiasi pengamat.



Itulah mengapa arsitektur bisa menjadi sesuatu yang sangat indah, dan bagi setiap orang keindahannya berbeda-beda, karena tampaknya, ada 'lagu' dalam setiap komposisi arsitektur, yang dinikmati secara visual. Sensasi berbeda-beda tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor dalam diri pengamat seperti usia, kondisi fisik, pengalaman, dan sebagainya.


Persepsi subyektif
Dalam menjelaskan tentang persepsi subyektif yang dapat muncul dari mengamati sebuah obyek arsitektural, saya memberikan contoh penghubungan obyek arsitektur dan musik yang menurut saya memiliki 'sensasi' yang kurang lebih sama saat menikmati kedua obyek tersebut.


Kerumitan



Museum Bilbao, Spanyol. Kesan persepsi visual yang tidak mudah, membutuhkan waktu untuk memahami konteks bangunan keseluruhan.


Paris Jazz Big Band. Untuk memahami musik ini, perlu waktu yang tidak sedikit karena kerumitan berbagai nada didalamnya.
.
Kesendirian




Daniel Liebeskind: Jewish Museum.
Graphic: Google earth
Bangunan, ruang dengan kesan 'tercabik-cabik', sendirian dan menderita, tergambar dengan baik melalui desain ini.


Jean Claude Debussy: "Syrinx" solo flute
Kesan musikal yang sama: Sendiri, tercabik-cabik, menderita
(meskipun saya tidak tahu maksud Debussy sendiri saat mengarang komposisi ini)
.

Ritme/perulangan



Bangunan dengan ritme dan perulangan yang cukup banyak seperti bangunan lain yang terpengaruh gaya Yunani Romawi

JS Bach: ''Sinfonia'' From Cantata Wir Danken Dir Gott
Saya temukan disini dalam versi gitarnya (versi orkestranya juga sangat menarik), memiliki ritme dan perulangan dalam nada-nadanya.
.
Minimalisme/presisi



Bangunan arsitektur minimalis; struktur perulangan dan modulasi yang presisi, dingin, yang sangat mudah 'dicerna'.




DJ Riri: Rusty Guitar
Musik dengan modulasi presisi, minimalis.
Sama seperti jenis bangunan berkesan sama, musik ini juga digandrungi oleh mereka yang menyukai gaya hidup serba cepat.
***




________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2008 astudio Indonesia. All rights reserved.